Nada-nada itu datang
lagi. nada yang menggerahkan hati ini, mengingatkan diri ini dengan masa-masa
silam itu. akankah semuanya kembali pada
saat diri ini masih bisa melihat senyumnya??. Senyum
yang selalu terbayang dalam tidurku. Yang membuatku menjadi orang bodoh dalam
waktu 2 tahun ini. Namun dapatkah aku tetap berbohong
didepan semua pasang mata itu. sungguh hal yang menyulitkan batin yang remuk
ini.
Hingga diri ini hanya
bisa untuk tetap menutup mata, mulut dan teliga. Membuat diri ini sendiri
merasakan sakit yang amat dalam, adakah yang bisa mengerti dan merasakannya ?.
Andaikan orang
itu masih berada disisi inii, mungkin tiada tangis yang pecah hari ini, tangis
yang dapat membuat suasana pagi yang cerah ini menjadi suasana yang menyakitkan.
Sangat menyakitkan bagi batin kuu.
“tau kah kamu
ku tak pernah bisa hidup tanpa dirimuu disampingku, tanpa candamu dan tanpa
belaian tangan itu”
kataku untuk
meluapkan segala penyesalanku yang tlah lalu. Seharusnya dulu ku ungkapkan
segalanya. Mengungkapkan perasaan yang masih tertahan ditenggorokan hingga
tiada seorangpun yang dapat mengetahui terlebih dirinya yang kutuju. Diriku
memang bodoh mengapa perasaan yang menggebu itu dulu aku tahan, aku biarkan dia
hanya berjalan didepanku tanpa mencoba untuk membuatnya berhenti untuk
mendengarkan perasaan yang tlah lama aku pendam. Sungguh penyesalan yang tak
berarti bagi diriku yang bukan siapa-siapa pada saat itu dan hari ini juga.
hingga ku
beranjak dari tempat itu menuju ke suatu tempat yang tlah lama tak kunjungi.
Tempat pertama kali kami bertemu dan tempat dimana dia memberikan senyuman
indah itu untukku.
“ ku ingin
senyum itu lagi”
pintaku dalam
hati saat itu. Permintaan yang pasti tak dapat dia kabulkan.
“ Tuhan
kembalikan dia, buat dia tetap ada disampingku. Bisakah kau kabulkan
permintaanku. Membuatnya kembali tersenyum seperti dulu. Hanya itu pintaku
tolong kabulkan lah “, meronta dalam kesendirian dan dalam tangis yang tak
tertahan.
Ku buka suatu
hal yang tlah lama terkubur. Hal yang tak pernah aku buka lagi karna tak kuat
diri ini untuk melihat segala yang terkubur dan penuh debu itu. Tapi debu-debu
itu adalah suatu hal yang pernah ada dan berjalan dalam dunia ku ini.
Hingga dada ini
sesak saat membuka segala hal itu.
Melihat betapa bodohnya diriku yang merelakan dia pergi untuk menjauh dariku
bukan untuk sekecap saja tapi untuk selamanya .
DION . itu
namanya . nama yang terkubur dalam kotak kecil ini. Kotak kecil yang selalu aku
jaga dan kurawat hingga pada akhirnya aku juga yang membuatnya rusak dan
memusnahkan segala hal indah bersamanya .
awal kami
berjumpa memang biasa saja. Kami saling mengenal satu sama lain lewat
sahabat-sahabat kami . sahabat kami yang merasa kami bisa bersama dan mengenal
satu sama lain. Dan ternyata dia memang orang yang mudah bergaul, terlalu mudah
menurutku tak seperti diriku yang cukup malu untuk menceritakan segala hal
tentang diriku. Namun dia adalah sosok yang dapat membuatku menjadi sosok yang
berbeda dari sebelumnya didepannya aku bisa menceritakan segala hal. Mungkin
segala hal yang belum pernah terdengar dari orang lain, aku biarkan dia
mendengarnya. Itu membuatku menjadi lebih menyukainya tapi, apakah ini betul
perasaan menyukai seseorang atau hanyalah perasaan kagum pada sosok Dion .
semakin lama
kami bersama, semakin lama juga aku mengenalnya dan semakin tak bisa ku
percaya, perasaan ini mulai tak bisa kutahan. Perasaan yang sangat menggebu
saat memandangnya. Sekarang baru aku sadari ini bukan hanya perasaan kagum
terhadap seseorang atau apalah yang sering disebut orang-orang. Ini perasaan
yang berbeda, perasaan yang berbeda saat aku mengidolakan seorang tokoh bahkan
lebih. Ini adalah perasaan sayang.
“apakah mungkin
aku menyukai Dion?, ahh.. tak mungkin kami hanyalah teman, tapi tak salahkan
jika aku menyukai teman ku sendiri .”
Aku mulai
berpikir sendiri dalam sunyi malam dan hawa dingin yang menusuk kulit yang
remuk ini .
Hingga pada
saat itu tiba, aku mulai bisa memberikan hal-hal yang mungkin bisa dikatakan
itu adalah cara-cara ku untuk mendekatinya. Tapi tak tau mengapa dia
menangkapnya bukan sebagai hal yang ku inginkan. Dia menangkap hal-hal yang ku
berikan hanya sebagai lelucon untuknya. Dan bodohnya diriku, aku membiarkannya
menangkap segala hal itu memang seperti yang dipikirkannya. Dan yang kupikirkan
saat itu hanyalah. Setidaknya dia masih bisa berada disamping, ku anggap itu
sudah cukup membuat lega. Meski ku tahu pada akhirnya dia tak akan selamanya
bisa berada disamping ku .
Seiring waktu
yang berlalu. Segala hal yang ku takutkan benar-benar terjadi.
“DION .!! “
Dia harus pergi
meninggalkan ku, dia akan pergi. Ayahnya mendapatkan pekerjaan baru diluar kota
dan sebagai anak satu-satunya dia harus ikut dengan kedua orang tuanya. Ikut
meninggalkan kota tempat kami berdomisili bersama. Dan tempat dimana kami
bertemu pertama kalinya.
“ maaf jen, aku
harus pergi.”
Katanya saat
mengucapkan salam perpisahan untuk ku .
“ahhh. Kamu
pergi yah. Dion kamu harus bahagia disana yah.!!.”
Kata ku dengan
suara yang menyemangatkan. Melihatnya pergi sungguh tak pernah aku inginkan.
Namun wajahku tetap saja tersenyum meski hati ini menangis tapi tak kubiarkan
sedikitpun dia melihat itu semua. Tak kubiarkan dia meninggalkan kesan yang
membuatnya sedih saat meninggalkan ku. Meski hati ini sakit namun wajah ini
akan selalu tersenyum pada sosok DION .
Diapun pergi
menggunakan mobil yang biasa ku lihat lewat didepan rumah ku. Sekarang mungkin
mobil itu tak akan pernah kulihat lagi terlebih orang yang berada di dalam
mobil itu, dion. Seorang yang belum bisa mendengar isi hati ini. Saat melihat
mobil itu pergi meninggalkan ku rasanya kaki ini ingin beranjak dari tempat ini
dan berlari mengerjarnya hanya untuk membuatnya bisa mendengarkan satu kata
“ aku sayang
kamu “
Tapi semua itu
sudah terlambat, tak ada yang dapat aku katakan, kubiarkan mobil itu menjauh
dan kubiarkan orang yang kusayang itu hanya melambaikan tangan yang hanya bisa ku balas dengan
lambaian tangan ku juga dan senyuman palsu ini .
Hari demi hari
berlalu. Aku dan dia masih sering berkomunikasi. Meski jarak memisahkan kami
tapi aku tetap bisa mengetahui keadaanya.
Bulan demi
bulan juga berlalu bahkan sudah hampir satu tahun kami tak bertemu. Komunikasi kami juga mulai merenggang tapi aku tetap coba
untuk tetap mengetahui kabarnya . hingga suatu kabar ku terima. Ternyata dia
telah bersama wanita lain. Dia sekarang bukan sosok Dion yang sendiri lagi.
Sungguh, tak dapat kuterima segala hal itu tapi aku tetap berkata
“ aku juga
bahagia mendengar kabar itu “
Aahh.. !! apa
aku memang bodoh, jelas-jelas aku marah, namun aku tetap berkata seperti itu.
Jelas-jelas mata ini sedari tadi menangis namun aku tetap memaksa untuk
tersenyum mendengarnya. Apa yang dia lakukan pada diriku ini. Aku sudah hancur
dion dan kamu tetap membuatku tetap hancur namun hanya ini yang dapat aku
lakukan. Memang aku yang bodoh tapi beginilah diriku selalu menjadi banyanganmu
meski hanya dibelakang mu tapi aku akan terus memerhatikan mu.
Lama setelah
kabar itu kudengar. Kubiarkan komunikasi kami merenggang. Kubiarkan dia bersama
wanita itu. Dan ku biarkan segala hal itu musnah dengan sendirinya.
“ JEN.!! “
Itu terikan
dari teman-temanku .
“ yahh .!! “
Jawab ku untuk
mereka .
“ apa kamu
sudah tau apa yang terjadi dengan Dion sekarang ini .??”
Apa yang
terjadi dengannya, aku mulai mempertanyakannya yang ku tau dia mulai berpacaran
dengan wanita lain. Namun itu sudah 3 bulan yang lalu. Sekarang aku tak
mengetahui sedikitpun berita darinya. Dan ku pertanyakan hal itu pada
teman-teman ku.
“ dia kenapa .”
tanya ku .
“ yakin, kamu
belum tau semuanya ? “
Nada suara apa
itu, apa yang ingin mereka beritahu kepada ku. Hal itu membuatku semakin pusing
dan penasaran .
“ apa sihh .!!,
kenapa dengan Dion. ?? aku tak tau apa-apa tentangnya .”
“ jen, kamu
ngak tau kalau Dion kecelakan.”
KECELAKAAN .??
apa yang mereka katakan . aku mulai mengalami cemas mendadak karna kabar itu .
“ kecelakaan
.?” tanya ku
“ iya, dion
kecelakaan dan sekarang dia sedang koma. “
Tak ku percaya
segala hal itu. Namun aku juga tak bisa mengelak dengan bukti yang dikeluarkan
teman-teman ku. Sekarang rasanya tubuh ini tak bisa menjaga keseimbanggannya
lagi. Tubuh ini pun tumbang. Aku mulai tak sadar dan pingsan ditempat itu juga
.
Setelah aku
mulai sadar kembali. Hal yang pernah kali ingin aku lihat yaitu dion. Aku ingin
bersamanya. Dan teman-teman ku mengerti. Akhirnya Dino salah seorang temanku,
bergegas mengambil kunci mobilnya dan membawa mobil itu melaju ketempat dimana
Dion sekarang berada.
Lama kami
diperjalanan. Yang aku pikirkan hanyalah sosok Dion. Hanya Dion yang berputar
dikepala ku. Aku tak memikirkan hal yang lain lagi. Hingga kami tiba ditempat tujuan
kami . dan tenyata aku tak dapat menerimanya.
Aku hanya dapat
melihat sosok Dion yang tetutup kain putih. Tidak mungkin Dion sudah pergi 5
menit sebelum kami tiba dirumah sakit itu. Rasanya aku tak kuat melihatnya. Aku
hanya dapat menangis dipelukan tubuh yang tak memiliki roh lagi. Tak ada roh
dari Dion yang aku sayangi .
“ Dion, dimana
kamu .?, aku sudah datang. Apakah kamu bisa mendengarku, aku datang disini
untuk mengatakan kalau aku sayang kamu. AKU SAYANG KAMU DION . kenapa kamu
pergi. Kamu pernah janji untuk ngak pergi dari aku. Tapi kenapa kamu pergi
dion. “
Aku hanya bisa
menangis dan meronta. Hingga tangan yang lembut menggenggam tangan ku dan
membawa ku pergi dari tempat itu.
“ apa kamu
jeni.?” Tanya seorang yang cukup aku kenal. Itu adalah ibu dion .
“ iya tante .”
dengan suara yang masih serak dan derain air mata aku menjawabnya .
“ ini untuk
kamu nak, sebenarnya Dion ingin mengunjungi mu minggu depan namun karna
kecelakaan ini dia tak akan pernah bisa. Harus kamu tau dalam komanya dia hanya
terbangun untuk menulis ini untuk mu. Dan dia hanya berpesan kepada ku untuk
memberikan ini untuk mu ‘
Dari tangan itu
terlihat sebuah surat berwarna coklat yang diberikan kepada ku. Ku buka surat
itu dan didalamnya tertulis
“ untuk jeni
kamu mungkin
akan menangis saat membaca surat ini. Namun kamu harus tau yang kuharapkan
adalah senyum mu saat melihat surat dariku. Jeni, maaf selama aku pergi
ninggalin kamu aku tak pernah sedikitpun untuk datang bertemu denganmu. Kamu
tau alasanku apa karna aku tak berani bertemu dengan orang yang aku sayangi.
Aku tega ninggalin kamu meski aku tau aku sayang sama kamu. Dan aku juga minta
maaf soal kabar aku sudah pacaran dengan orang lain, itu semua bohong jen.! Aku
hanya ingin agar kamu disana bisa lupain aku, meski awalnya aku berpikir aku
bodoh namun ternyata kamu lebih bodoh karna bisa percaya segala hal yang keluar
dari bibir ku. Jen .! aku menulis surat ini karna kau sudah tau kapan aku harus
pergi, bukan pergi meninggalkan mu dari sebuah kota tapi pergi meninggalkan mu
dari dunia ini. Maaf seribu maaf aku tak pernah bisa memberi tahu kamu kalau
sebenarnya aku sayang kamu. Tapi walau bukan didunia lagi, aku juga akan
mencintai mu jeni . tetaplah tersenyum dan aku akan berada disampingmu .
DION
“
Benar aku
menangis saat membaca semua isi dari surat itu namun setelah aku menghabiskan
isi dari surat itu aku mulai merasa bahwa jika aku terus menangis pasti Dion
juga tak akan tenang disana. Akhirnya aku mulai bisa melepaskan segalanya.
Saat pemakaman
seorang Dion aku hanya dapat melihatnya dari jauh. Tak bisa diri ini melihat
dia terkubur dalam tanah yang dingin itu. Namun hanya doa yang bisa kupanjatkan
untuknya. Sebuah doa dan setitik harapan agar dia bahagia diluar sana. Aku pun
mulai tersenyum dan terasa bahwa DION tepat berada disamping ku menemani ku
hingga waktu juga akan menjemputku .
No comments:
Post a Comment