Memori
penuh dirimu memenuhi otak ku. Cerita tentang dirimu berdongeng diujung mataku.
Merelakan, membiarkan atau apalah yang mampu dibuat orang lain untuk
melupakanmu ternyata tak semudah mengusap air mata dipipi ini. Ku lupakan
segala hal mengenai fatanah ini . segala hal yang tak akan ku bawa bersama mu
nantinya.
Terima kasih untuk mu karna pernah hadir dihidupku
Terima kasih untuk mu karna pernah menjadi warna dihidupku
Terima kasih untuk mu karna pernah membuat senyum dihidupku
Jika ku untai setiap kalimat-kalimat tanda terima
kasih ku untuknya mungkin tak akan terhingga lagi. Mungkin bisa menutupi segala
noda-noda kesalahanku padanya. Jika dia mendengarnya ku ucapkan segala doa
untuknya. Untuk salah satu teman hidupku yang telah menunggu ku ditempat lain.
“hei kamu, mungkin sekarang kita tak sejalan lagi.
Aku dan yang lain terus berjalan namun kamu telah berhenti. Kami rela untuk mu,
kami rela untuk melepaskan satu tangan. Dengan kado senyuman indah di hari duka
mu “
Dengarkan,
rasakan, dan amati . deraian air mata memenuhi baju ku terjatuh dengan segala
kenyataan hidup. Membuat imajinasi aneh agar kau bangkit kembali bersama kami.
Aku, kami dan mereka semua mengungkapkan segala perasaan yang mungkin tidak
akan kau mengerti lagi. Namun tetaplah mengerti perasaan kami yang tak teratur
lagi saat tutupan kain menghantarmu, angin menjadi nyanyian bisu penghantar
kepergianmu, lirih dan gaduh menyelimuti sekelilingku. Mengatakan segala hal
mengenai dirimu.
“tak
mungkin”
Kata
itu yang selalu kudengar dari mereka. Kata yang sudah sangat familiar singgah
diteligaku, kata yang mungkin juga sudah
beratus kali atau mungkin tak terhitung lagi juga keluar dari mulut ku sendiri.
Aku tak canggung bahkan sudah tak merasa aneh jika mereka bercerita tentang
segala mengenai dirimu. namun yang masih mengenang di otak ku mengapa mereka
masih sulit melupakan mu seperti aku yang juga belum bisa menjawab pertanyaan
ku sendiri.
Mungkin sesosok orang yang baik seperti dirimu
sangat sulit dilupakan
“Kalimat
itu mungkin bisa menjadi jawaban atas pertanyaan ku”
Perasaan
hingga mulut mulai mengutarakan kalimat itu. Bagaimana cara menilai baik
seseorang bisa kita lihat setelah kita tiada nantinya. Saat segala hal mungkin
tidak dapat kita rasakan lagi. Hingga hanya orang yang ditinggalkan yang dapat
bercerita tentang kisah bersamanya dan orang yang pergi itu.
Saat mengingat segalanya
serasa tangan ingin meraihnya. Serasa tubuh sesak mengingatnya. Jalan mungkin
berbeda tapi raga selalu ingin memeluknya, mendekapnya tak membiarkan dia
pergi. Tuhan. Dengarkan, bacakan derita manusia ilusi ini, membiarkan dia lari
tanpa dosa dari dunia. Satu hal menjadi ancaman, jika aku bisa berbicara buat aku bisu saja, jika
aku bisa berlari potong kedua kaki ku. Tak berguna jika hanya untuk hidupku
sendiri. Aku ingat saat pertama kali kami tertawa . aku ingat saat pertama kali
kami berpegangan tapi aku tak pernah ingin mengingat saat dimana aku harus
melepaskannya. Melepaskan satu ranting dari pohon persahabatan.
Sedari tadi aku berkata
mengenai kalimat yang tak penting, itu sebenarnya ku utarakan untuk seorang
sahabat yang tlah pergi untuk menunggu ditempat lain. Saat mengenang cerita
masa lalu dengannya mungkin tak akan ada habisnya bahkan jika aku dan yang lain
jujur kami masih terus menganggap dia ada disekitar kami selama ini setelah
beberapa bulan dia telah tertidur ditempatnya untuk selamanya.
Masih segar ingatanku saat
aku berteriak mendengar kabar dia pergi, saat aku terjatuh dilantai itu dan
saat melihat sahabat ku yang lain memeluk benda yang tak dapat berkata apa-apa.
Aku masih ingat saat ku peluk sahabatku yang menangis saat kepergiannya dan
masih ku ingat kemarahan sahabatku karna masih tak percaya dia telah pergi.
Segalanya masih ku ingat hingga wajah yang terbaring itu juga belum bisa
kulupakan.
Andaikan dulu aku dan
sahabatku yang lain tau itu ada saat terkahir kami bersama, kami tak akan ingin
berpisah. Ku ingat saat penyakit terus memeluknya hingga dosa terus terhapus
dari tubuhnya.
Bagikan, bagikan, bagikan..
Bagikan ke kami semua rasa
sakit itu. Maaf untukmu karna tak ada disamping mu saat kau rasakan sakit itu.
Maaf untuk mu karna aku dan yang lain tak bisa menjadi penopang disaat kau
menginginkan uluran tangan memegang mu. Namun terima kasih untuk satu orang
sahabat ku yang masih ada terus untuknya disaat aku dan yang lain jauh darinya.
Kembali
kemasa lalu, kembali merasuki jiwaku . belaian tangan indah mulai pudar menjauh
dari sisiku. Nikmat bersama mu mulai tak terasa lagi, hangat dekapanmu mulai
menjelma menjadi nyanyian rindu yang sering kulantunkan. Pergi dan hilang
seperti hawa dingin yang terus memelukku setiap malam-malam indah tanpa
kehadiranmu. Dinginnya menusukku hingga ketulangku, meracuni tenggorokanku
membuat perasaan yang ingin mengakhiri segalanya. Maaf jika dulu ku tak bisa
menjadi manusia yang terlalu sayang padamu sebagai objek dunia yang tak
akan ku bawa pergi ke duniaku
sesungguhnya.
Jika nanti aku
menyusulmu dapatkah kau raih tangan ku kembali seperti dulu
Jika nanti aku juga
kesana dapatkah kita bersama lagi seperti dulu
Jika nanti aku pergi
ketempat itu dapatkah kau mengenali ku seperti dulu
Jika nanti kita bertemu lagi untuk mu dan semua sahabat ku
“tanpa kalian. Aku tak akan pernah menjadi kita, aku tetap tak akan pernah
menjadi kita dan aku tak akan pernah mendapat sahabat yang lebih baik dari pada
kalian”
Masih ku ingat saat pertama
kali kami sering jalan bersama membuat satu nama kesenangan kami, satu nama
yang terus menyatukan kami hingga segalanya harus kami terima masing-masing.
Sekarang segalanya terus
berjalan namun bukan berarti kami berjalan dan melupakanmu begitu saja. Bagi aku
dan kami semua, kamu adalah sesosok manusia indah yang pernah berjalan bersama
kami namun harus menunggu kami terlebih dahulu sebelum yang lain pergi. Aku
yakin kau membuat satu tempat yang indah disana. Tempat kita akan bertemu lagi.
Satu bisikan untukmu.
Tersenyumlah disana saat melihat kami berjalan dan berhenti untuk meraih
tanganmu kembali SAHABAT.
No comments:
Post a Comment