Friday, 30 August 2013

Miss you~

aku rindu kamu, dia dan kalian semua 
aku rindu perasaan indah saat melihat kalian senyum.
aku rindu saat mengatakan bahwa aku bahagia walau sebenarnya aku sedih
aku rindu saat kalian semua marah atas kesalahanku dan membenarkan ku
aku rindu sikap egois ku yang perlahan berubah karna kalian
aku rindu saat kalian meledekku karena hal lucu dari diriku
aku rindu saat semuanya malu lugu untuk kita semua
jalan bersama, tertawa bersama .
bisakah terulang kembali ..

Yang terlupakan

Disaat aku hanya ingin marah. Tak tau kepada siapa dan tau karena apa, kenapa perasaan ini muncul tiba-tiba rasa untuk menangis terhadap semua hal didepanku menjadi alasanku mengapa aku menulis dan menyendiri di atas pembaringan ku sendiri. Merasakan perasaan yang tak tau semua orang dapat menjelaskannya. Mengapa dan kenapa semua ini harus terjadi kepada diri ku yang ingin menjadi biasa saja terhadap hal-hal disekitar ku .

Peristiwa satu demi satu berjalan disekitar ku, aku tak mampu merasakan semuanya, aku tak mampu mengerti semuanyaa. Semua bergulir tanpa perasaan disekitar ku .
Menyalahkan diriku yang dulu juga tak dapat menjadi alasan yang jelas karena sesungguhnya hanya aku yang memilih semua itu.

Sekarang baru bisa aku sadari jika setiap hal yang ku putuskan tak berarti akan baik untuk hidup ku sendiri mungkin malah akan menjadi mimpi buruk yang menimpa ku seperti untuk keadaan ku saat ini .
Dan yang membuatku tak pernah ingin menghadapi semua ini adalah tanpa kehadiratmu kawan, kemana kalian ??. aku mengerti semua berjalan disaat masa muda tapi bisakah tak seperti saat ini, tak ada lagi satu nama untuk kita semua.

Kawan. Aku tak bisa merasakan suatu hal lagi, satu hal yang dapat mengembangkan senyum dibibirku .



Tuesday, 27 August 2013

PERASAAN YANG TELAH LALU MUNGKIN AKAN MUNCUL LAGI JIKA KAU TETAP BERJALAN DIDEPAN KU TANPA MEMBIARKAN KU UNTUK MELEWATI MU SEDIKIT SAJA .

DIA

Untuk membohongi perasaan sendiri memanglah sulit, sangat sulit. Membohongi kalau aku belum bisa melupakan mu memang sulit.

Menangis dalam sujud ku untuk mu baru bisa ku rasakan saat ini, saat aku mulai bisa melihat mu tersenyum meski bukan untuk ku . melihat mu tertawa meski tanpa suara ku.

Menutup mata ku namun tetap mendengar suara mu, menutup mulut ku tanpa harus menyebut nama mu karna keegoisan ku. Ini aku yang tak akan pernah bisa berkata apa-apa lagi untuk mu .


Berlari dengan ketidakpastian untuk arah hidup ku adalah aku yang bodoh.

ungkapan

Hari ini tepat setahun aku putus dengan seseorang yang pertama mengukir cinta dihati ini. Sungguh awal yang indah saat merasakan cinta itu. namun aku tak pernah mengerti apa yang tlah dia rencanakan dari kebahagian yang tlah kualami.saat bersama dirinya, rasanya hati ini tak mampu berkata apa-apa. Namun yang kulihat dari sorot matanya dia tak berkata sama dengan perasaan yang slama ini aku rasakan.
Perih saat dia berkata apa yang tak pernah aku inginkan terucap dari bibirnya. Namun apa daya diriku tak mampu berbuat apa-apa. Itu semua tlah terjadi dan tetap harus aku jalani. Meski tlah setahun namun aku tak mampu melupakan dirinya dan cintanya. Sungguh sesuatu yang sangat ironis dalam kehidupanku.
Apakah, yang berawal dari cinta akan berakhir dengan cinta pula?. Kalimat itu sering terbayang dalam ingatanku dan tak pernah lepas. Satu kalimat yang slama ini aku pertanyakan. Meski kalimat itu sangat gampang diucapkan namun mengapa kata itu tak pernah bisa membuatku merasa puas dengan apa yang dimaksud dengan cinta.
Rasanya, aku tak sanggup memikul beban yang slama ini aku rasakan. Aku hendak membagikannya, tapi siapa yang mau mengerti???. Siapa yang ingin mengetahui, siapa, siapa, dan siapa. Hanya air mata kepedihan yang tak pernah berhenti bercerita tentang derita yang ku alami.
Tlah ku coba berbagai cara untuk bisa melupakannya dan cinta yang pernah singgah di hati ini. Tapi mengapa sangat sulit. Aku mengerti bahwa dia yang pertama. Tapi mengapa yang ku lihat dari dirinya berbeda, dia begitu gampangnya melupakanku. “apakah memang dia dulu hanya main-main denganku?” pertanyaan itu dapat membuatku menintihkan air mata yang dia anggap tak ada gunanya. Memang aku salah pernah mencintainya tapi itulah yang dinamakan cinta. Meski itu sakit atau senang pada akhirnya itu juga dirasakan dari hati.
Sebenarnya tak sulit mencari penggantinya namun untuk memindahkan sebuah perasaan yang sudah terlanjur mencinta, sangatlah sulit.
Hari demi hari berganti, aku sering mendengar kabar tentang dirinya. Aku tak pernah berkomunikasi dengannya. Tak tau karna apa dia tak mau mengajakku berbicara lagi. Mungkin aku punya salah dengannya, namun yang masih aku pertanyakan. Salah apa aku padanya????.
Saat aku mendengar kabar yang tak pernah aku inginkan. Benar-benar benar terjadi. Mengapa dia harus bersama wanita itu. sungguh aku tak pernah menginginkannya.
Dia sekarang telah menjadi pribadi yang berbeda. Tak lagi mengenaliku, bahkan tak ada kata untuk menghiraukan perasaanku yang slama ini menunggunya.

Yah…sampai kapan aku harus menunggu dirinya??? ataukah aku harus berhenti menunggunya???. Tapi kapan aku harus berhenti menunggunya????. Apakah sampai seseorang yang benar-benar mencintaiku datang. tapi kapan orang itu datang????. Ahh.. hidupku memang penuh pertanyaan. Dan semua pertanyaan itu belum terjawab. Tapi aku yakin semua itu akan terjawab dengan sendirinya. Dan bila semua itu tlah terjawab. Aku akan memulai sebuah lembar cerita kehidupanku yang baru dengan membuat masa laluku sebagai pengalaman yang sangat berharga dan takkan pernah aku lupakan.

Monday, 26 August 2013

KESALAHAN

Apa yang harus aku lakukan dengan kesalahan yang tlah ku lakukan akankah semua bisa berakhir seperti pada awal kita tak pernah saling mengenal. Dimana tak ada sakit hati lagi, tiada tangisan lagi tanpa dirimu aku bisa yakin bahwa diri ini akan menjalani hidupnyaa dengan baik-baik saja. Meski air mata ini tlah kering, aku slalu yakin bahwa suatu hari nanti pasti ada seseorang yang akan menggantikan air mata ini dengan senyuman lagi.
Meski tak seperti dulu lagi, aku akan terus tersenyum melihat bayangan mu yang terus berjalan menjauh semakin jauh hingga hanya diriku yang dapat menertawakan segalanya .
Menertawakan hal-hal yang bodoh. Menunggu, menunggu dan terus menunggu .
Membiarkannya pergi dan menunggu orang lain ternyata tak semudah perkiraan ku. Sangat sulit menghilangkan satu bayangan seseorang yang telah lama bersama ku dan orang lain yang mungkin belum ku kenal sama sekali .
Hingga diri ini menerima setiap tangan yang singgah ditempat ku . tanpa melihat matanya lagi dan tanpa ingin mendengar kata-kata dari orang-orang itu, aku menerima mereka semua. meski aku mengerti bahwa tak seorang pun diantara mereka yang akan mendapatkan perasaan dan rasa sayang ku lagi .
Wanita yang tak bisa membedakan penyesalan dan rasa sakit yang membelenggunya adalah aku. Tak ku kenali kata cinta lagi, tak ku kenali perasaan sayang terhadap orang lain lagi. Tak ingin mendengar bahkan mencerna segala kalimat-kalimat mesra dan menggoda itu. Ku pikirkan segalanya dengan logika lagi agar aku tak dibodohi oleh setiap kata yang dapat dikeluarkan oleh kaum pemangsa seperti mereka. Kaum yang mulai kubenci dari saat aku sudah sangat tak bisa merasakan cinta lagi karena DIA .
Dia . mungkin sekarang sedang tertawa dan bercanda dengan kaum ku yang lain . yang mungkin akan termakan dengan setiap mantranya. Mantra yang telah menyihir diriku dulu .
Maafkan aku yang terlalu membencinya dan membuat kalian sebagai dirinya .
Mungkin sangat sulit melupakannya hingga dia bersama orang lain, aku tetap marah tak pernah merelakannya. Mungkin dengan mendekati kaumnya yang lain aku bisa melupakannya .
Mungkin sangat kejam untuk menyiksa diriku sendiri dengan harus terus tersenyum denga hati yang menangis. Mungkin dengan mendekati kaumnya yang lain aku bisa tersenyum lagi.
Mungkin sangat naif menjadi wanita yang selalu ingin terlihat sempurna dimatanya meski bukan siapa-siapa ku lagi. Mungkin dengan mendekati kaumnya yang lain aku bisa menjadi sempurna bukan untuk dirinya.
Melupakannya selalu membuatku tersiksa apalagi jika harus menjadi sempurna dimatanya.
Sekuat apapun aku melupakannya. Orang-orang itu akan tetap menjadi bayangan orang yang terus berjalan menjauh dariku . sekuat apapun aku mengejarnya. Orang-orang itu akan tetap berada didekat ku walau tak pernah kuperhatikan sedikitpun.
Bukan mau ku untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang baru itu tapi mata ku yang tak mampu untuk berpaling dari bayangannya.
MAAFKAN AKU MENJADI WANITA BODOH YANG TAK BERPENDIRIAN INI .





MEMORI

Memori penuh dirimu memenuhi otak ku. Cerita tentang dirimu berdongeng diujung mataku. Merelakan, membiarkan atau apalah yang mampu dibuat orang lain untuk melupakanmu ternyata tak semudah mengusap air mata dipipi ini. Ku lupakan segala hal mengenai fatanah ini . segala hal yang tak akan ku bawa bersama mu nantinya.
Terima kasih untuk mu karna pernah hadir dihidupku
Terima kasih untuk mu karna pernah menjadi warna dihidupku
Terima kasih untuk mu karna pernah membuat senyum dihidupku

Jika ku untai setiap kalimat-kalimat tanda terima kasih ku untuknya mungkin tak akan terhingga lagi. Mungkin bisa menutupi segala noda-noda kesalahanku padanya. Jika dia mendengarnya ku ucapkan segala doa untuknya. Untuk salah satu teman hidupku yang telah menunggu ku ditempat lain.

“hei kamu, mungkin sekarang kita tak sejalan lagi. Aku dan yang lain terus berjalan namun kamu telah berhenti. Kami rela untuk mu, kami rela untuk melepaskan satu tangan. Dengan kado senyuman indah di hari duka mu “

Dengarkan, rasakan, dan amati . deraian air mata memenuhi baju ku terjatuh dengan segala kenyataan hidup. Membuat imajinasi aneh agar kau bangkit kembali bersama kami. Aku, kami dan mereka semua mengungkapkan segala perasaan yang mungkin tidak akan kau mengerti lagi. Namun tetaplah mengerti perasaan kami yang tak teratur lagi saat tutupan kain menghantarmu, angin menjadi nyanyian bisu penghantar kepergianmu, lirih dan gaduh menyelimuti sekelilingku. Mengatakan segala hal mengenai dirimu.
“tak mungkin”
Kata itu yang selalu kudengar dari mereka. Kata yang sudah sangat familiar singgah diteligaku,  kata yang mungkin juga sudah beratus kali atau mungkin tak terhitung lagi juga keluar dari mulut ku sendiri. Aku tak canggung bahkan sudah tak merasa aneh jika mereka bercerita tentang segala mengenai dirimu. namun yang masih mengenang di otak ku mengapa mereka masih sulit melupakan mu seperti aku yang juga belum bisa menjawab pertanyaan ku sendiri.
Mungkin sesosok orang yang baik seperti dirimu sangat sulit dilupakan
“Kalimat itu mungkin bisa menjadi jawaban atas pertanyaan ku”
Perasaan hingga mulut mulai mengutarakan kalimat itu. Bagaimana cara menilai baik seseorang bisa kita lihat setelah kita tiada nantinya. Saat segala hal mungkin tidak dapat kita rasakan lagi. Hingga hanya orang yang ditinggalkan yang dapat bercerita tentang kisah bersamanya dan orang yang pergi itu.
Saat mengingat segalanya serasa tangan ingin meraihnya. Serasa tubuh sesak mengingatnya. Jalan mungkin berbeda tapi raga selalu ingin memeluknya, mendekapnya tak membiarkan dia pergi. Tuhan. Dengarkan, bacakan derita manusia ilusi ini, membiarkan dia lari tanpa dosa dari dunia. Satu hal menjadi ancaman, jika  aku bisa berbicara buat aku bisu saja, jika aku bisa berlari potong kedua kaki ku. Tak berguna jika hanya untuk hidupku sendiri. Aku ingat saat pertama kali kami tertawa . aku ingat saat pertama kali kami berpegangan tapi aku tak pernah ingin mengingat saat dimana aku harus melepaskannya. Melepaskan satu ranting dari pohon persahabatan.
Sedari tadi aku berkata mengenai kalimat yang tak penting, itu sebenarnya ku utarakan untuk seorang sahabat yang tlah pergi untuk menunggu ditempat lain. Saat mengenang cerita masa lalu dengannya mungkin tak akan ada habisnya bahkan jika aku dan yang lain jujur kami masih terus menganggap dia ada disekitar kami selama ini setelah beberapa bulan dia telah tertidur ditempatnya untuk selamanya.
Masih segar ingatanku saat aku berteriak mendengar kabar dia pergi, saat aku terjatuh dilantai itu dan saat melihat sahabat ku yang lain memeluk benda yang tak dapat berkata apa-apa. Aku masih ingat saat ku peluk sahabatku yang menangis saat kepergiannya dan masih ku ingat kemarahan sahabatku karna masih tak percaya dia telah pergi. Segalanya masih ku ingat hingga wajah yang terbaring itu juga belum bisa kulupakan.
Andaikan dulu aku dan sahabatku yang lain tau itu ada saat terkahir kami bersama, kami tak akan ingin berpisah. Ku ingat saat penyakit terus memeluknya hingga dosa terus terhapus dari tubuhnya.  
Bagikan, bagikan, bagikan..
Bagikan ke kami semua rasa sakit itu. Maaf untukmu karna tak ada disamping mu saat kau rasakan sakit itu. Maaf untuk mu karna aku dan yang lain tak bisa menjadi penopang disaat kau menginginkan uluran tangan memegang mu. Namun terima kasih untuk satu orang sahabat ku yang masih ada terus untuknya disaat aku dan yang lain jauh darinya.
Kembali kemasa lalu, kembali merasuki jiwaku . belaian tangan indah mulai pudar menjauh dari sisiku. Nikmat bersama mu mulai tak terasa lagi, hangat dekapanmu mulai menjelma menjadi nyanyian rindu yang sering kulantunkan. Pergi dan hilang seperti hawa dingin yang terus memelukku setiap malam-malam indah tanpa kehadiranmu. Dinginnya menusukku hingga ketulangku, meracuni tenggorokanku membuat perasaan yang ingin mengakhiri segalanya. Maaf jika dulu ku tak bisa menjadi manusia yang terlalu sayang padamu sebagai objek dunia yang tak akan   ku bawa pergi ke duniaku sesungguhnya.

Jika nanti aku menyusulmu dapatkah kau raih tangan ku kembali seperti dulu
Jika nanti aku juga kesana dapatkah kita bersama lagi seperti dulu
Jika nanti aku pergi ketempat itu dapatkah kau mengenali ku seperti dulu
Jika nanti kita bertemu lagi untuk mu dan semua sahabat ku “tanpa kalian. Aku tak akan pernah menjadi kita, aku tetap tak akan pernah menjadi kita dan aku tak akan pernah mendapat sahabat yang lebih baik dari pada kalian”

Masih ku ingat saat pertama kali kami sering jalan bersama membuat satu nama kesenangan kami, satu nama yang terus menyatukan kami hingga segalanya harus kami terima masing-masing.
Sekarang segalanya terus berjalan namun bukan berarti kami berjalan dan melupakanmu begitu saja. Bagi aku dan kami semua, kamu adalah sesosok manusia indah yang pernah berjalan bersama kami namun harus menunggu kami terlebih dahulu sebelum yang lain pergi. Aku yakin kau membuat satu tempat yang indah disana. Tempat kita akan bertemu lagi.

Satu bisikan untukmu. Tersenyumlah disana saat melihat kami berjalan dan berhenti untuk meraih tanganmu kembali SAHABAT.

Setitik harapan

Nada-nada itu datang lagi. nada yang menggerahkan hati ini, mengingatkan diri ini dengan masa-masa silam itu. akankah semuanya kembali  pada saat diri ini masih bisa melihat senyumnya??. Senyum yang selalu terbayang dalam tidurku. Yang membuatku menjadi orang bodoh dalam waktu 2 tahun ini. Namun dapatkah aku tetap berbohong didepan semua pasang mata itu. sungguh hal yang menyulitkan batin yang remuk ini.
Hingga diri ini hanya bisa untuk tetap menutup mata, mulut dan teliga. Membuat diri ini sendiri merasakan sakit yang amat dalam, adakah yang bisa mengerti dan merasakannya ?.
Andaikan orang itu masih berada disisi inii, mungkin tiada tangis yang pecah hari ini, tangis yang dapat membuat suasana pagi yang cerah ini menjadi suasana yang menyakitkan. Sangat menyakitkan bagi batin kuu.
“tau kah kamu ku tak pernah bisa hidup tanpa dirimuu disampingku, tanpa candamu dan tanpa belaian tangan itu”
kataku untuk meluapkan segala penyesalanku yang tlah lalu. Seharusnya dulu ku ungkapkan segalanya. Mengungkapkan perasaan yang masih tertahan ditenggorokan hingga tiada seorangpun yang dapat mengetahui terlebih dirinya yang kutuju. Diriku memang bodoh mengapa perasaan yang menggebu itu dulu aku tahan, aku biarkan dia hanya berjalan didepanku tanpa mencoba untuk membuatnya berhenti untuk mendengarkan perasaan yang tlah lama aku pendam. Sungguh penyesalan yang tak berarti bagi diriku yang bukan siapa-siapa pada saat itu dan hari ini juga.
hingga ku beranjak dari tempat itu menuju ke suatu tempat yang tlah lama tak kunjungi. Tempat pertama kali kami bertemu dan tempat dimana dia memberikan senyuman indah itu untukku.
“ ku ingin senyum itu lagi”
pintaku dalam hati saat itu. Permintaan yang pasti tak dapat dia kabulkan.
“ Tuhan kembalikan dia, buat dia tetap ada disampingku. Bisakah kau kabulkan permintaanku. Membuatnya kembali tersenyum seperti dulu. Hanya itu pintaku tolong kabulkan lah “, meronta dalam kesendirian dan dalam tangis yang tak tertahan.
Ku buka suatu hal yang tlah lama terkubur. Hal yang tak pernah aku buka lagi karna tak kuat diri ini untuk melihat segala yang terkubur dan penuh debu itu. Tapi debu-debu itu adalah suatu hal yang pernah ada dan berjalan dalam dunia ku ini.
Hingga dada ini sesak saat membuka  segala hal itu. Melihat betapa bodohnya diriku yang merelakan dia pergi untuk menjauh dariku bukan untuk sekecap saja tapi untuk selamanya .
DION . itu namanya . nama yang terkubur dalam kotak kecil ini. Kotak kecil yang selalu aku jaga dan kurawat hingga pada akhirnya aku juga yang membuatnya rusak dan memusnahkan segala hal indah bersamanya .
awal kami berjumpa memang biasa saja. Kami saling mengenal satu sama lain lewat sahabat-sahabat kami . sahabat kami yang merasa kami bisa bersama dan mengenal satu sama lain. Dan ternyata dia memang orang yang mudah bergaul, terlalu mudah menurutku tak seperti diriku yang cukup malu untuk menceritakan segala hal tentang diriku. Namun dia adalah sosok yang dapat membuatku menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya didepannya aku bisa menceritakan segala hal. Mungkin segala hal yang belum pernah terdengar dari orang lain, aku biarkan dia mendengarnya. Itu membuatku menjadi lebih menyukainya tapi, apakah ini betul perasaan menyukai seseorang atau hanyalah perasaan kagum pada sosok Dion .
semakin lama kami bersama, semakin lama juga aku mengenalnya dan semakin tak bisa ku percaya, perasaan ini mulai tak bisa kutahan. Perasaan yang sangat menggebu saat memandangnya. Sekarang baru aku sadari ini bukan hanya perasaan kagum terhadap seseorang atau apalah yang sering disebut orang-orang. Ini perasaan yang berbeda, perasaan yang berbeda saat aku mengidolakan seorang tokoh bahkan lebih. Ini adalah perasaan sayang.
“apakah mungkin aku menyukai Dion?, ahh.. tak mungkin kami hanyalah teman, tapi tak salahkan jika aku menyukai teman ku sendiri .”
Aku mulai berpikir sendiri dalam sunyi malam dan hawa dingin yang menusuk kulit yang remuk ini .
Hingga pada saat itu tiba, aku mulai bisa memberikan hal-hal yang mungkin bisa dikatakan itu adalah cara-cara ku untuk mendekatinya. Tapi tak tau mengapa dia menangkapnya bukan sebagai hal yang ku inginkan. Dia menangkap hal-hal yang ku berikan hanya sebagai lelucon untuknya. Dan bodohnya diriku, aku membiarkannya menangkap segala hal itu memang seperti yang dipikirkannya. Dan yang kupikirkan saat itu hanyalah. Setidaknya dia masih bisa berada disamping, ku anggap itu sudah cukup membuat lega. Meski ku tahu pada akhirnya dia tak akan selamanya bisa berada disamping ku .
Seiring waktu yang berlalu. Segala hal yang ku takutkan benar-benar terjadi.
“DION .!! “
Dia harus pergi meninggalkan ku, dia akan pergi. Ayahnya mendapatkan pekerjaan baru diluar kota dan sebagai anak satu-satunya dia harus ikut dengan kedua orang tuanya. Ikut meninggalkan kota tempat kami berdomisili bersama. Dan tempat dimana kami bertemu pertama kalinya.
“ maaf jen, aku harus pergi.”
Katanya saat mengucapkan salam perpisahan untuk ku .
“ahhh. Kamu pergi yah. Dion kamu harus bahagia disana yah.!!.”
Kata ku dengan suara yang menyemangatkan. Melihatnya pergi sungguh tak pernah aku inginkan. Namun wajahku tetap saja tersenyum meski hati ini menangis tapi tak kubiarkan sedikitpun dia melihat itu semua. Tak kubiarkan dia meninggalkan kesan yang membuatnya sedih saat meninggalkan ku. Meski hati ini sakit namun wajah ini akan selalu tersenyum pada sosok DION .
Diapun pergi menggunakan mobil yang biasa ku lihat lewat didepan rumah ku. Sekarang mungkin mobil itu tak akan pernah kulihat lagi terlebih orang yang berada di dalam mobil itu, dion. Seorang yang belum bisa mendengar isi hati ini. Saat melihat mobil itu pergi meninggalkan ku rasanya kaki ini ingin beranjak dari tempat ini dan berlari mengerjarnya hanya untuk membuatnya bisa mendengarkan satu kata
“ aku sayang kamu “
Tapi semua itu sudah terlambat, tak ada yang dapat aku katakan, kubiarkan mobil itu menjauh dan kubiarkan orang yang kusayang itu hanya melambaikan  tangan yang hanya bisa ku balas dengan lambaian tangan ku juga dan senyuman palsu ini .
Hari demi hari berlalu. Aku dan dia masih sering berkomunikasi. Meski jarak memisahkan kami tapi aku tetap bisa mengetahui keadaanya.
Bulan demi bulan juga berlalu bahkan sudah hampir satu tahun kami tak bertemu. Komunikasi  kami juga mulai merenggang tapi aku tetap coba untuk tetap mengetahui kabarnya . hingga suatu kabar ku terima. Ternyata dia telah bersama wanita lain. Dia sekarang bukan sosok Dion yang sendiri lagi. Sungguh, tak dapat kuterima segala hal itu tapi aku tetap berkata
“ aku juga bahagia mendengar kabar itu “
Aahh.. !! apa aku memang bodoh, jelas-jelas aku marah, namun aku tetap berkata seperti itu. Jelas-jelas mata ini sedari tadi menangis namun aku tetap memaksa untuk tersenyum mendengarnya. Apa yang dia lakukan pada diriku ini. Aku sudah hancur dion dan kamu tetap membuatku tetap hancur namun hanya ini yang dapat aku lakukan. Memang aku yang bodoh tapi beginilah diriku selalu menjadi banyanganmu meski hanya dibelakang mu tapi aku akan terus memerhatikan mu.
Lama setelah kabar itu kudengar. Kubiarkan komunikasi kami merenggang. Kubiarkan dia bersama wanita itu. Dan ku biarkan segala hal itu musnah dengan sendirinya.
“ JEN.!! “
Itu terikan dari teman-temanku .
“ yahh .!! “
Jawab ku untuk mereka .
“ apa kamu sudah tau apa yang terjadi dengan Dion sekarang ini .??”
Apa yang terjadi dengannya, aku mulai mempertanyakannya yang ku tau dia mulai berpacaran dengan wanita lain. Namun itu sudah 3 bulan yang lalu. Sekarang aku tak mengetahui sedikitpun berita darinya. Dan ku pertanyakan hal itu pada teman-teman ku.
“ dia kenapa .” tanya ku .
“ yakin, kamu belum tau semuanya ? “
Nada suara apa itu, apa yang ingin mereka beritahu kepada ku. Hal itu membuatku semakin pusing dan penasaran .
“ apa sihh .!!, kenapa dengan Dion. ?? aku tak tau apa-apa tentangnya .”
“ jen, kamu ngak tau kalau Dion kecelakan.”
KECELAKAAN .?? apa yang mereka katakan . aku mulai mengalami cemas mendadak karna kabar itu .
“ kecelakaan .?” tanya ku
“ iya, dion kecelakaan dan sekarang dia sedang koma. “
Tak ku percaya segala hal itu. Namun aku juga tak bisa mengelak dengan bukti yang dikeluarkan teman-teman ku. Sekarang rasanya tubuh ini tak bisa menjaga keseimbanggannya lagi. Tubuh ini pun tumbang. Aku mulai tak sadar dan pingsan ditempat itu juga .
Setelah aku mulai sadar kembali. Hal yang pernah kali ingin aku lihat yaitu dion. Aku ingin bersamanya. Dan teman-teman ku mengerti. Akhirnya Dino salah seorang temanku, bergegas mengambil kunci mobilnya dan membawa mobil itu melaju ketempat dimana Dion sekarang berada.
Lama kami diperjalanan. Yang aku pikirkan hanyalah sosok Dion. Hanya Dion yang berputar dikepala ku. Aku tak memikirkan hal yang lain lagi. Hingga kami tiba ditempat tujuan kami . dan tenyata aku tak dapat menerimanya.
Aku hanya dapat melihat sosok Dion yang tetutup kain putih. Tidak mungkin Dion sudah pergi 5 menit sebelum kami tiba dirumah sakit itu. Rasanya aku tak kuat melihatnya. Aku hanya dapat menangis dipelukan tubuh yang tak memiliki roh lagi. Tak ada roh dari Dion yang aku sayangi .
“ Dion, dimana kamu .?, aku sudah datang. Apakah kamu bisa mendengarku, aku datang disini untuk mengatakan kalau aku sayang kamu. AKU SAYANG KAMU DION . kenapa kamu pergi. Kamu pernah janji untuk ngak pergi dari aku. Tapi kenapa kamu pergi dion. “
Aku hanya bisa menangis dan meronta. Hingga tangan yang lembut menggenggam tangan ku dan membawa ku pergi dari tempat itu.
“ apa kamu jeni.?” Tanya seorang yang cukup aku kenal. Itu adalah ibu dion .
“ iya tante .” dengan suara yang masih serak dan derain air mata aku menjawabnya .
“ ini untuk kamu nak, sebenarnya Dion ingin mengunjungi mu minggu depan namun karna kecelakaan ini dia tak akan pernah bisa. Harus kamu tau dalam komanya dia hanya terbangun untuk menulis ini untuk mu. Dan dia hanya berpesan kepada ku untuk memberikan ini untuk mu ‘
Dari tangan itu terlihat sebuah surat berwarna coklat yang diberikan kepada ku. Ku buka surat itu dan didalamnya tertulis
“   untuk jeni
kamu mungkin akan menangis saat membaca surat ini. Namun kamu harus tau yang kuharapkan adalah senyum mu saat melihat surat dariku. Jeni, maaf selama aku pergi ninggalin kamu aku tak pernah sedikitpun untuk datang bertemu denganmu. Kamu tau alasanku apa karna aku tak berani bertemu dengan orang yang aku sayangi. Aku tega ninggalin kamu meski aku tau aku sayang sama kamu. Dan aku juga minta maaf soal kabar aku sudah pacaran dengan orang lain, itu semua bohong jen.! Aku hanya ingin agar kamu disana bisa lupain aku, meski awalnya aku berpikir aku bodoh namun ternyata kamu lebih bodoh karna bisa percaya segala hal yang keluar dari bibir ku. Jen .! aku menulis surat ini karna kau sudah tau kapan aku harus pergi, bukan pergi meninggalkan mu dari sebuah kota tapi pergi meninggalkan mu dari dunia ini. Maaf seribu maaf aku tak pernah bisa memberi tahu kamu kalau sebenarnya aku sayang kamu. Tapi walau bukan didunia lagi, aku juga akan mencintai mu jeni . tetaplah tersenyum dan aku akan berada disampingmu .
DION “
Benar aku menangis saat membaca semua isi dari surat itu namun setelah aku menghabiskan isi dari surat itu aku mulai merasa bahwa jika aku terus menangis pasti Dion juga tak akan tenang disana. Akhirnya aku mulai bisa melepaskan segalanya.
Saat pemakaman seorang Dion aku hanya dapat melihatnya dari jauh. Tak bisa diri ini melihat dia terkubur dalam tanah yang dingin itu. Namun hanya doa yang bisa kupanjatkan untuknya. Sebuah doa dan setitik harapan agar dia bahagia diluar sana. Aku pun mulai tersenyum dan terasa bahwa DION tepat berada disamping ku menemani ku hingga waktu juga akan menjemputku .





seribu untaian kata

Sampul indah yang tak berisi pikiran ku mengenai derita yang sedang kujalani, melangkahkan kaki sedikit demi sedikit membayangkan segala hal yang akan kulalui nantinya dengan sepasang sendal kecil yang masih terpasang erat dikakiku. Aku masih mengingat saat terakhir aku melepaskannya untuk orang itu, melepaskan segala hal yang telah kokoh dan membiarkan dia menghancurkan meski tanpa dosa sedikitpun.
Lelah memang lelah saat melihat kembali keatas, bodoh tak ubahnya kata hina yang selalu menamparku. Tak ku rasakan sakit itu lagi, bahkan tak ada kata sakit karna akan sangat pedih jika mengingat dulu sakit yang kualami membuatku peka dan hambar dengan rasa sakit dihati.
Awal untain dengan seribu kata menggambarkan diriku yang sangat menghargai cinta namun tak dihargai oleh cintanya.
Sesosok gadis yang tengah menyapu segala isi ruang ditempat itu adalah aku. Diriku yang terbiasa memperhatikan setiap orang dari jauh,  hingga kejauhan membuat sepasang tangan mendekatiku.
“ berbalik.. tidak.. berbalik.. tidak .. berbalik “
Sontak mataku membelalak saat melihat wajahnya berbalik kehadapanku. Sebuah mantra kecil yang ku ucapkan terus menerus membuatku tersenyum melihatnya. Tingkahnya dari jauh saat itu kuanggap sama saja, hingga saat mata indah itu terus menatapku dalam, dia mulai terlihat beda meski yang dia lakukan sama dengan orang disekitarku.
Dia.. dia datang mengucapkan salam di message akun sosial ku, dengan ucapan salam biasa aku menjawabnya.
Dia.. dia orang yang telah lama berada didekatku namun tak pernah sedekat ini.
Dia.. dia yang menjadi sosok yang tak pernah putus dari pandanganku walau dulu dia hanyalah secercah cahaya yang terus berada disekitarku .
Hingga secerah cahaya itu menyilaukan mataku. Sangat indah saat menatapnya dan membalas messagenya .
“ hai “
Kata tak bermakna namun berati untuk diriku. Mengucapkan satu kata untuk memulai segala percakapan. Hingga kami terus-menerus membalas messange satu sama lain. Tak tau kenapa setiap kata yang tebaca dilayar yang berada dihadapanku selalu membuat ku tersenyum. Tersenyum sendiri melihat segala kata-kata itu. Dan yang ku inginkan saat itu keadaan yang sama dengan dia yang berada jauh dengan ku saat itu. Kami sudah saling mengenal satu sama lain namun dia tetap menganggapku seorang adik baginya. Hanya seorang adik tak lebih saat itu. Dan bodohnya diri ku tetap merasa bahagia meski hanya menjadi sesosok adik baginya.
Kakak. Apa kamu melihat adikmu ?, yang tak pernah menganggapmu  kakak ku. Aku selalu menganggapmu seorang lelaki dewasa dihadapanku. Serasa air mata ini bercucuran saat mengucapkan semua kata itu didepan layar yang hanya bisa bungkam melihat diriku. Boneka yang hanya bisa diam dengan kata-kata adalah diriku . diriku yang terlalu takut berkata jujur meski yang kurasa saat itu sangat mengiris perasaan sayang ini.
“ kakak ?”
Ku mulai mengatakan segalanya .
“ iya. “
“ ada yang mau aku beritahu ke kakak “
Dengan tangan yang gemetaran dan nafas yang mulai ku atur perlahan. Ingin ku beritahukan segalanya. Tapi tak tau mengapa segala hal mulai berputar diotak ku. Dimulai dari hal apakah kamu bisa tetap seperti ini setelah kuungkapkan segalanya ataukah malah akan berbalik mencaciku sendiri. Membuat hubungan ini hancur meski ini adalah hubungan tanpa status yang jelas sedikit pun .
“iya . apa ?’’
“ tidak ada kak. Aku hanya bercanda . J
Aku menghancurkan segalanya dengan satu kalimat itu. Membuat diriku yang selalu mempertimbangkan segalanya menjadi orang yang putus asa.
“ ya udah “
Satu kata yang sangat membuat ku sangat frustasi. Apakah dia tak pernah menganggapku. Atau hanya aku yang merasakan segalanya.
Hampir sebulan kami terus seperti itu . terus bertemu namun dia tetap menganggap ku biasa saja, bahkan untuk memalingkan wajahnya kepada ku saja serasa ada yang menahannya. Sesulit itu kah senyum untuk ku. Aku mulai berpikir apa aku memang hanyalah mainan untuknya atau apalah yang disebut orang .
Dia menjadi sesosok yang berbeda saat bertemu dengan ku dan pada saat mengirimkan message kepada ku.  


Hingga malam itu tiba, malam dimana semuanya serasa berbeda, hawa serasa membuat semua bulu kuduk ku merinding bukan karena sesuatu yang tak nampak namun karena dirinya, yang mulai berani mengungkapkan segalanya .
Meskipun senang saat dia mulai bertanya tentang diriku dan perasaan ku tentangnya. Namun aku tak mengerti mengapa tangan dan kakiku sangat dingin. Saat membaca satu kalimat dilayar hadapan ku .
“ MAU KAH KAU BERSAMA KU ?”
Satu kalimat yang mulai kucerna namun belum berani ku pastikan. Yang ku inginkan saat itu segala hal yang berada dibenak ku adalah yang terbaik saat itu. Tapii...!!
“aku tak mengerti “
Ku keluarkan kata-kata untuk mengecohnya kalimat yang sulit itu dan membuatnya pasti saat itu juga. Agar tiada lagi panggilan kakak adik yang dapat membohongi perasaan ku hingga detik ini .
“jujur aku sayang kamu, kamu ?”
Kubuka lebar-lebar mataku, kuusap mata ku dengan jelas agar aku tak salah saat membaca kalimat itu. Yang kulihat telah tersampaikan diotak ku dicerna dengan batin ku dan kurasakan dengan perasaan ku saat ini. Ku harap semunya akan berjalan dengan bahagia, pikir ku saat itu.
“aku juga seperti itu J
Akhirnya segalanya menyatu. Dan segala hubungan ini telah memiliki status namun kalimat selanjutnya pun berjalan .
“tapi yang kuharapkan hanya kita berdua yang tau. Tak lebih dari itu”
Kenapa?, kenapa hanya kita berdua ?, apa alasan kamu ? namun bodohnya tangan ini menerima segalanya. Meski pertanyaan masih bergulir dikepala ku namun tetap kulalui, meski menyayat namun tetap ku terima .
Kami pacaran namun tak seperti pasangan lain. Dia hanya bisa berbicara dengan ku melalui perantara. Dia tak pernah menginginkan untuk berbicara langsung bahkan untuk senyum dengan ku tak pernah. Hubungan backstreet ?, bukan ini yang ku mau.
Seminggu dia menghidariku, namun aku tetap mengangapnyaa. Tetap mengangap dirinya yang kusayang. Meski sangat pedih namun aku tetap bertahan. Bertahan untuknya dan perasaan ini .
Dia terus menjauh, sangat  jauh. Hingga diri ini terus berusaha mendekat dengannya namun ia terus saja menjauh, menjauh dari ku yang masih terus saja mengejarnya, menganggapnya dan merindukannya yang telah berubah menjadi orang lain yang tak pernah ku kenali lagi.
Meski telah jauh namun aku tetap disini, menunggunya kembali melihatku, menunggunya menganggapku kembali meski yang kuharapkan tak ubahnya serpihan harapan yang tak berujung .
Dia datang kembali untuk mengatakan sesuatu, namun yang dia katakan sangat berbanding terbalik dengan yang kuharapkan .
Dia menginginkan untuk mengakhiri segala hal ini, mengakhiri segala hal yang tak seorang pun ketahui. Dapatkah dia ketahui aku sakit, sangat sakit jika ingin memastikan hal yang telah ku lepaskan menjadi tak berarti untuk yang lalu bahkan untuk yang sekarang .
Orang yang sering kuperhatikan sembunyi-sembunyi sekarang menjadi orang lain. Meski dulu tetap menjadi orang lain dan menjadi pacar ku secara sembunyi-sembunyi namun aku yakin ini lah yang terbaik. Ditinggalkan olehnya tanpa kata dari pada bersamanya tanpa senyuman sedikit pun. Dulu aku tak ubahnya sebuah udara yang berharap digenggam namun tak akan pernah bisa. Sesuatu yang sangat mustahil selalu ku inginkan namun sekarang aku mulai berpikir ulang jika dia bukanlah orang yang pantas untuk ku dan mengambil perasaan sayang yang tulus dari diri ini .
Lama kami tak bersama lagi, lama kami tak berbincang lagi baik itu secara langsung secara langsung maupun melalui pesan singkat sekali pun. Aku mulai terbiasa dengan semua itu walau hampir setiap hari aku melihatnya namun aku mulai berusaha untuk membuat itu biasa saja. Meski sulit namun aku terus berusaha . berusaha membuatnya menjadi hal yang biasa saja untuk diri yang juga biasa-biasa saja yang terus mencintai hal-hal yang biasa saja seperti dirinya yang tlah menjadi orang biasa untuk hidupku saat ini .
Disaat aku berusaha menjadikannya biasa saja, dia datang kembali. Kembali datang mengungkit hal-hal yang tlah lalu. Dan tak tau mengapa aku tak pernah tahan mendengar setiap kata-katanya, aku selalu termakan semua kata-kata yang dia keluarkan, aku dengan mudahnya terpedaya olehnya, terpedaya oleh setiap kata-kata nya. Apa aku bodoh atau mungkin aku terlalu menyayanginya. Aku sendiri tak mengerti diriku. Tak mengerti mana sayang itu mana benci itu.
Semakin dia bicara semakin aku tak berhenti mendengarnya, mendengar segala kat-kata yang tak ku tau apakah itulah hal yang paling jujur atau kah hanya kebohongan untuk mempermainkan diriku untuk kedua kalinya .
Hingga diri ini menyetujui segalanya, menyetujui untuk kembali bersamanya. Walaupun kembali tanpa diketahui orang lain lagi, namun aku tetap menginginkannya. Meski kembali menjadi orang bodoh namun aku terus merasa inilah aku. Diriku yang tak akan pernah lepas dengannya meski sudah berusaha untuk membuatnya biasa saja .
“ terima kasih kau bisa bersama ku lagi “
Terima kasih untuk kata-kata itu lagi, meski bodoh namun aku akan terus bersama mu .
Perkataan seseorang mungkin akan lebih berharga jika itu kau ucapkan dengan cara yang tulus dan tanpa kebohongan sedikit pun .
Kebersamaan kami bersama untuk kedua kalinya mungkin lebih lama dari kebersamaan kami yang pertama kalinya, kebersamaan kedua yang kuharapakan tanpa kebohongan sedikitpun ternyata membuatnya kembali menjadi dirinya yang kubenci .
Sudah cukup untuk segala penghinaan yang dia berikan, menjadi dirinya mungkin sangat lah menyenangkan, menyenangkan mempermainkan perasaan tulus ini . hingga segala hal terbuka. Bagaimana tidak aku baru sadar dia seperti ini semua karna aku, karena sesuatu yang dulu ku anggap biasa ternyata sangat melukainya .
“ itu semua hanyalah lelucon namun bisakah kamu mengerti perasaan ku “
Ucapku saat pertengkaran itu dimulai
“ kamu katakan itu lelucon, sejak awal aku sangat menyayangi mu namun kamu menganggap semuanya lelucon apa itu lucu untuk dirimu. Dan hanya ini yang membuat mu mengerti bahwa aku bukan orang yang kamu kenal dari awal “
Seperti hujaman tajam menghatamku. Sangat sakit, maafkan aku .maaf untuk segalanya .
“maafkan aku “
Hanya itu yang dapat aku katakan . baru bisa menyadari semuanya . maafkan aku. Maafkan aku. Maaf dalam tetesan air mata yang tak berarti. Tak berarti dia mengetahuinya karna akan lebih menyakitkan jika dia tahu namun tak menganggapinya sedikitpun. Tak akan pernah berarti dan akan menjadi sia-sia. Setidaknya air mata itu dpat menghapus kebodohan dan kesalahan ku untuk kisahku dengannya .
Meski kata maaf tak berarti, meski beribu tetesan air mata tak akan berhenti. Aku akan terus mengingatmu, meski sakit namun seribu untaian kata akan selalu mengambarkan dirimu yang tlah menjadi pelajaran berharga untuk ku .