Monday, 12 May 2014

Selamat


Selamat segalanya untukmu, Pernah hadir dan tersenyum didunia ku.
Selamat jalan untukmu, menemukan orang yang lebih baik dariku.

Hanya dengan mendengarkan dan mengetahui jika kamu sudah bersama yang lain maka aku hanya perlu berjalan menjauh dari hidupmu. Tenanglah, aku akan merangkak ketempat lain. Memuntahkan semua yang sudah aku rasakan tentangmu. Dan mengalirkan perasaan yang terus saja menusuk ku secara perlahan. Tenanglah, aku hanya perlu topeng itu. Menghilang dari pandanganmu dan berteriak sekencang-kencangnya walau dengan hati yang masih menangis.

Jika kau pergi maka raihlah tangannya, lepaskan aku dan semua perasaan ini. Aku sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi, aku sudah lari dari semuanya tapi tidak dari sosok sepertimu. Aku sudah berusaha melupakan tapi mengapa semua tentangmu selalu saja berbekas dalam ingatan ini. Sudahlah, aku sudah bosan dengan semua ini. Aku sudah mencari yang lain tapi hati tetap ingin bersama mu.

Tak bisa menjelaskan perasaan diri sendiri adalah aku yang merana dalam perasaan yang dicampakkan. kamu terus saya memberi harapan lebih namun untuk meninggalkan ku. Aku selalu saja menjadi bodoh untuk tetap menunggu walaupun dengan harapan yang tak bisa dipastikan. Sungguh hina menjadi wanita yang mencintai namun selalu saja ditinggalkan untuk cinta wanita lain.

Jika semua bisa berjalan sesuai arahnya maka arahkan sedikit pandanganmu kesini, mengarah ke mata berembun ini. Melihat hanya untuk cahayamu dan mendengarkan hanya untuk nadamu. Terlalu kejam hidup tanpa warna darimu yang sudah ada dalam dinding lain.

Sekarang atau kapanpun kau akan tetap seperti itu.
Sekarang atau kapanpun perasaanku akan tetap seperti ini.

Berharap setiap akhir menjadi bahagia adalah khayalan wangi dalam setiap mimpiku. Berjalan lah “Kak” biarkan aku menguburkannya sendiri atau mati terkubur dalam perasaan yang tak terbalaskan.




Monday, 5 May 2014

Sederhana

Sederhana yang menyakitkan, sangat indah menggambarkan wajah dengan ekspresi manis walaupun dengan hati yang teriris.
Sederhana yang melukai, sangat indah melihat waktu yang terus menghapus memori sedikit demi sedikit.

                Seharusnya bukan hari ini aku merelakan semuanya, seharusnya bukan hari ini aku berkata bodoh lagi. Menerima dan melepaskan dalam hitungan jari yang melelahkan. Aku harusnya tetap menunggu orang lain bukan malah berhenti untuk sekedar mengecap manis perkataan orang seperti dirinya. Lelaki dengan ribuan rayu gombal telah merusak semuanya.

                Awal yang indah mungkin tak diduakan lagi, percakapan hangat meluluhkan perasaan yang beku. Hingga, perjalanan bersama mulai aku jalani bersama.

                Perlahan aku sadar, dia hanya memberi harapan untuk bersama. Dia hanya ingin berjalan lalu melirik kearah ku bukan untuk menarik tanganku. Aku salah telah berhenti untuk meliriknya juga, aku salah telah melupakan tujuan awal aku berjalan ke jalan itu. sekarang, semua tercatat lagi begitupun dia mulai tercatat lagi dibuku ini.


                Sudahlah, dia hanya menjadi perjalananku. Merasa itu yang terakhir kalinya aku berhenti untuk menjadi wanita bodoh. Aku akan berjalan menuju ke orang itu. seseorang yang menjadi tujuan segalanya. Biarlah kamu yang melirik ku hidup diduniamu. Lupakan perkataanku jika aku menerima mu dengan segala kekuranganmu. Karena, terlalu sakit jika hanya aku yang menerima namun kamu tak bisa menerima ku.