Apakah kamu masih ingat saat
semuanya berjalan dikepala ini, hanya kamu seseorang yang menjadi pegangan
tangan yang mulai rapuh karena cinta yang meninggalkanku. Aku hanya ingin tetap
berada disampingmu dan menjadi yang terakhir bagimu namun mengapa kau datang
lalu meninggalkan hingga setiap kata yang keluar dari mulutku mulai tak berarti
lagi diteligamu.
Aku
yang hanya bisa melihatmu pergi dan datang kembali untuk mengumbar kata cinta yang
selalu mengurungku. Apakah salah jika aku masih mencintaimu dan berharap kau
tetap begini dalam setiap kebohongan yang kau berikan kepadaku. Jika semuanya
hanya permainan maka aku hanya perlu memainkan peran yang kau berikan tapi
kumohon jangan ada peran yang bisa membuatku menangis.
Jangan
kata itu lagi, aku terbiasa untuk menutup teliga jika hanya untuk dibohongi dan
tetap melebarkan mata untuk melihat gerakan mulutmu saat berbicara denganku.
Aku memang tak bisa berhenti dalam cintamu namun aku juga tak ingin terkurung
dalam kebohongan. Jika benar hanya kamu yang kusayangi maka setidaknya
dengarkan setiap kata dalam perasaan yang lebih senang untuk berteriak dalam
diam dari pada membuatmu mengerti gerakan hati yang mulai tak berbentuk lagi.
Aku
hanya sebuah perasaan yang berharap dibalaskan dan dimengerti. Tak ada
permintaan untuk menjadi ratu bagi raja sepertimu. Aku hanya seorang wanita
yang berharap kau genggam. Jangan kau tarik ulur perasaanku, datang dan pergi
sesukamu. Aku sendiri sudah tak mengerti perasaan yang tentu ini. Belajar
melupakan orang yang nyatanya tak bisa kulupakan. Aku sudah muak dengan kata
munafik dalam diriku sendiri, semua serasa tak ada gunanya jika hanya mulut
yang berkata aku tak suka dan hati selalu meneriakkan namamu.
Teligaku
memang sudah tertutup dengan namamu, tapi mataku masih memandang kearahmu. Jika
kau ingin aku melupakanmu maka matikan semua panca indraku agar aku bisa
menghilang dalam hidupmu bahkan dari hidupku sendiri. Seperti inikah sulitnya
meninggalkan pria seperti dirimu. Merasa hanya kau pancaran cahaya dalam
kegelapanku memang telah membutakan semua indraku. Aku mulai tak bisa merasakan
apa-apa lagi saat kau pergi dan mendapatkan cahayaku lagi saat kau datang
dengan kebohongan yang indah.
Jika
semua bisa bicara maka kamu akan terkejut dengan besarnya cintaku. Kamu akan
berlutut dan berkata jika hanya yang bisa mencintamu dalam diam yang terus
mengurungku. Jangan katakan jika kau telah menemukan yang lebih baik dariku
hingga diriku menjadi yang terbaik untuk pria lain. Aku hanya tak bisa
melepaskan diri dari kurungan ini hingga jiwaku telah menyatu dalam
kebohonganmu.
Tak
apa, aku lebih senang kebohonganmu dan berjalan bersamanya. aku terlalu sakit
mendengarkan yang benar, aku lebih memilih hidup dalam hitam dan sedikit cahaya
dari tanganmu dan menunggu kau datang kembali saat cahaya itu perlahan meredum.
Aku senang dalam tangis yang selalu menyapunya hingga kau mengerti hanya aku
cinta yang tak kau balaskan.
Tenanglah
priaku. Aku hanya perlu menunggumu kan? dan berkata hanya kau tangis dan
menunggu senyum dari dirimu. Aku baik-baik saja dalam setiap kata ini dan kamu
hanya perlu tau aku hanya butuh waktu untuk mati dalam kurunganmu dan tak bisa
kau lihat lagi. Aku tersenyum dalam debuku dan berharap lambaianku membuatmu
mengerti kurungan ini adalah aku yang berharap kau kembali.