Aku
mengenalnya sejak aku menghirup wanginya bunga mawar ditaman itu, aku melirik
semuanya namun mataku hanya tertuju pada sosok lelaki kecil yang tengah
menggenggam robot kecil ditangan kanannya. Dia tersenyum manis kepadaku,
menandakan ingin berbicara mengetahui siapa aku. Mata indah dan rambut coklat
itu penanda dia yang menjadi sahabat kecil ku hingga saat ini.
“ apakah ini akan menjadi kenyataan ? “
Bersama
dalam setiap langkah, berbicara dengan tujuan yang sama namun kenyakinan yang
menghalangi aku dan kamu menjadi pembatas jelas kita berdua tak akan pernah
bisa bersama. Masih ingatkah kamu bunga yang kau beri ditepi jalan itu, bunga
mawar yang melukai tanganku dan memaksa kita untuk memilih kedua orang tua dari
pada rasa sayang yang terus meluap untuk ku utarakan.
Aku adalah
wanita yang tak bisa mengerti jalan cerita kehidupan ini, tak bisa memahami
perasaanku sendiri dan menjauh untuk mencoba munafik dalam setiap hal yang ku
takutkan akan menyakitiku. Namun, dia dalah sosok lelaki yang selalu memacu ku
agar tak takut menghadap kedepan dan menatap semua mata manusia yang kadang
menghina dan membuat ku jatuh dengan mental yang tak berpendirian ini. Kau
adalah sosok yang kuat untuk diriku yang lemah dan kau juga adalah sosok yang
berbeda untuk keyakinan yang ku pegang teguh dalam setiap sujud ku.
“ Bintang “
Itu nama
lelaki yang kukenal sejak aku pindah dari desa kekota yang penuh dengan hal-hal
gila ini. Sebenarnya aku tak pernah ingin memanggilnya Bintang karena
bintang-bintang yang kusukai selalu jauh dari tanganku dan Bintang yang satu
ini walaupun dekat namun selalu terasa jauh.
Aku dan dia
adalah sahabat sejak kami duduk di bangku SD, aku dan dia adalah sahabat yang
selalu ditertawakan oleh teman-teman kami karena keyakinan dan orang tua kami
yang tak bisa satu kata. Orang tua ku dan dia tak pernah memiliki tujuan yang
sama, orang tuaku dan dia selalu saja membandingkan hal-hal yang mereka miliki.
Seperti kedua ayah kami yang bekerja dalam satu kantor yang sama namun tak
pernah bertatap mata sekalipun, aku sendiri tak mengetahui apa yang terjadi
namun yang jelas terlihat ayahku terlalu menjunjung tinggi keyakinannya dan tak
pernah ingin bergaul dengan keyakinan lain. Semua hal yang nampak itu yang
kutakutkan untuk tetap bersamanya namun hati kecil ku pada saat itu selalu saja
bersembunyi dan ingin terus melihat wajahnya. Akhirnya kami pun tetap bersama
dalam satu nafas meski kedua orang tua kami tak pernah mengetahui semua itu.
Kamu harus menjadi perempuan yang baik untuk lelaki
dan orang tua yang kamu sayangi
Bintang,
apa kamu ingat kata-kata itu. Kata saat kita harus berpisah karena aku akan
melanjutkan pendidikan SMP ku kekota lain.
Bintang,
apa kamu ingat wajah ku saat harus melepaskan tanganmu dan semua memori indah
dan tersembunyi kita berdua.
Bintang,
apa hanya itu yang dapat kau ucapkan saat itu.
Saat semua
perbincangan selesai, kau memberikan sebuah kotak berwarna merah dan kau
katakan untuk ku buka dikota baruku nantinya. Dan kotak itu adalah satu alasan
mengapa aku tak bisa melupakanmu hingga saat ini.
Satu..
Dua.. Tigaa..
Aku terus
menghintung jarak dan waktu kita berdua. Selama 3 tahun aku tak pernah melihat
mata dan rambut kecoklatan itu. Selama itu juga aku mulai tumbuh menjadi wanita
yang terus saja menunggu laki-laki yag kukenal sebagai sahabat kecil dengan
sebuah keyakinan yang berbeda. Selama itu aku mencoba untuk membujuk kedua
orang tuaku untuk menyekolahkan ku kesekolah yang sama denganmu walaupun
sebenarnya dia tak mengenali siapa kamu lagi.
“ Bintang
kamu tak berubah kan ? “
Maaf aku
mencoba bertanya seperti itu karena waktu bisa saja mengubahmu dan karena waktu
kamu bisa saja melupakan ku.
“ Aku tak
berubah sedikitpun dan tak melupakanmu sama sekali “
Dia tak
berubah dalam kata namun dengan mata yang berbicara aku jelas melihat dia tak
pernah berbohong walaupun wajah dan postur tubuh yang kulihat didepanku
sekarang ini nyatanya telah berubah menjadi lelaki dewasa dengan nama Bintang
sahabatku.
“ Kita akan
bersama lagi “
Ucapku
dengan senyum saat memasuki sekolah kami berdua . sebuah bording school yang membuat kami bisa mengetahui semua hal dengan
lebih jelas dalam waktu yang lebih
panjang.
Setiap saat
mengenang masa lalu, setiap saat berjalan bersama dan setiap saat selalu
memandang wajahnya namun dengan status jelas dia adalah sahabatku. Melihatnya
tumbuh sedikit demi sedikit membuatku menyukainya. Mungkin kata orang memang
benar, Friendship become LOVE bisa
saja terjadi dan itu yang kualami namun bagaimana dengan keyakinan yang selalu
menjadi penghalang jelas antara aku dan dia. Apakah harus ku lewati atau hanya
melihatnya saja dari wilayahku dan tak pernah berharap untuk melewati batas
itu.
Semua yang
kurasa bisa kusembunyikan namun tidak dengan dia. Semakin hari dia semakin
berbeda. dia terus menjauh seakan ingin mengetahui bagaimana aku tanpa dirinya.
Dia berjalan bahkan berlari untuk menjauhi ku namun bagaimana aku yang sekarang
tak mungkin ku jelaskan semua padanya karena Bintang adalah sosok yang jauh dan
sulit kugapai. Saat aku juga berlari, dia berbalik dan menggenggam tanganku
lalu mendekapku dalam hangatnya tubuh yang tinggi itu. Aku meronta ingin
melepaskan dia dan semua perasaannya namun bagaimana jika aku tak bisa
mendapatkannya lagi. Kudiamkan saja dia dan membuatnya berbicara jujur dengan
perasaan yang juga mungkin telah lama dia pendam.
“ Lupakan
keyakinan dan tetaplah bersama ku “
Apa
maksudnya !!, kamu berbeda dalam setiap sujud dan doa namun dengan cinta yang
sama aku menghapusnya. Aku menggenggam tangannya dan berjalan bersama dalam
tujuan yang sama walau dengan cara berdoa yang berbeda.
Hari demi
hari kami lalui bersama dalam jenjang SMA di sekolah yang sama. Bersembunyi dan
terus tertawa bersama adalah hal biasa untuk hidup kita disekolah ini. Sebuah
tempat yang menjadi saksi bahwa keyakinan tak akan pernah bisa menghalangi
segalanya. Hingga ujian kelulusan mencoba untuk membuat kita berpisah lagi. Aku
terus belajar dan mencoba mengerjarnya walaupun pada akhirnya selalu aku
serahkan kepada yang mengurusnya.
Kubiarkan
semuanya berjalan sekarang, walaupun pada akhirnya nanti kita akan berpisah
namun aku selalu yakin kita akan dipertemukan lagi. Seperti semua cerita kecil
kita hingga saat ini. Semua perbedaan yang terus menyatukan kita dan persamaan
yang mempererat kita. Karena kamu adalah Bintang sahabatku yang kini menjadi
penyemangat hidupku yang baru.
Bintang,
kau tak jauh lagi. Tetap disini dan pegang tanganku untuk terus berjalan
bersama .

