Sampul indah yang tak berisi
pikiran ku mengenai derita yang sedang kujalani, melangkahkan kaki sedikit demi
sedikit membayangkan segala hal yang akan kulalui nantinya dengan sepasang
sendal kecil yang masih terpasang erat dikakiku. Aku masih mengingat saat
terakhir aku melepaskannya untuk orang itu, melepaskan segala hal yang telah
kokoh dan membiarkan dia menghancurkan meski tanpa dosa sedikitpun.
Lelah memang lelah saat
melihat kembali keatas, bodoh tak ubahnya kata hina yang selalu menamparku. Tak
ku rasakan sakit itu lagi, bahkan tak ada kata sakit karna akan sangat pedih
jika mengingat dulu sakit yang kualami membuatku peka dan hambar dengan rasa
sakit dihati.
Awal
untain dengan seribu kata menggambarkan diriku yang sangat menghargai cinta
namun tak dihargai oleh cintanya.
Sesosok gadis yang tengah
menyapu segala isi ruang ditempat itu adalah aku. Diriku yang terbiasa memperhatikan
setiap orang dari jauh, hingga kejauhan
membuat sepasang tangan mendekatiku.
“ berbalik.. tidak..
berbalik.. tidak .. berbalik “
Sontak mataku membelalak saat
melihat wajahnya berbalik kehadapanku. Sebuah mantra kecil yang ku ucapkan
terus menerus membuatku tersenyum melihatnya. Tingkahnya dari jauh saat itu
kuanggap sama saja, hingga saat mata indah itu terus menatapku dalam, dia mulai
terlihat beda meski yang dia lakukan sama dengan orang disekitarku.
Dia.. dia datang mengucapkan
salam di message akun sosial ku, dengan
ucapan salam biasa aku menjawabnya.
Dia.. dia orang yang telah
lama berada didekatku namun tak pernah sedekat ini.
Dia.. dia yang menjadi sosok
yang tak pernah putus dari pandanganku walau dulu dia hanyalah secercah cahaya
yang terus berada disekitarku .
Hingga secerah cahaya itu
menyilaukan mataku. Sangat indah saat menatapnya dan membalas messagenya .
“ hai “
Kata tak bermakna namun
berati untuk diriku. Mengucapkan satu kata untuk memulai segala percakapan.
Hingga kami terus-menerus membalas messange satu sama lain. Tak tau kenapa
setiap kata yang tebaca dilayar yang berada dihadapanku selalu membuat ku
tersenyum. Tersenyum sendiri melihat segala kata-kata itu. Dan yang ku inginkan
saat itu keadaan yang sama dengan dia yang berada jauh dengan ku saat itu. Kami
sudah saling mengenal satu sama lain namun dia tetap menganggapku seorang adik baginya. Hanya seorang adik tak lebih
saat itu. Dan bodohnya diri ku tetap merasa bahagia meski hanya menjadi sesosok
adik baginya.
Kakak. Apa kamu melihat
adikmu ?, yang tak pernah menganggapmu
kakak ku. Aku selalu menganggapmu seorang lelaki dewasa dihadapanku.
Serasa air mata ini bercucuran saat mengucapkan semua kata itu didepan layar
yang hanya bisa bungkam melihat diriku. Boneka yang hanya bisa diam dengan
kata-kata adalah diriku . diriku yang terlalu takut berkata jujur meski yang
kurasa saat itu sangat mengiris perasaan sayang ini.
“ kakak ?”
Ku mulai mengatakan segalanya
.
“ iya. “
“ ada yang mau aku beritahu
ke kakak “
Dengan tangan yang gemetaran
dan nafas yang mulai ku atur perlahan. Ingin ku beritahukan segalanya. Tapi tak
tau mengapa segala hal mulai berputar diotak ku. Dimulai dari hal apakah kamu
bisa tetap seperti ini setelah kuungkapkan segalanya ataukah malah akan
berbalik mencaciku sendiri. Membuat hubungan ini hancur meski ini adalah
hubungan tanpa status yang jelas sedikit pun .
“iya . apa ?’’
“ tidak ada kak. Aku hanya
bercanda . J”
Aku menghancurkan segalanya
dengan satu kalimat itu. Membuat diriku yang selalu mempertimbangkan segalanya
menjadi orang yang putus asa.
“ ya udah “
Satu kata yang sangat membuat
ku sangat frustasi. Apakah dia tak pernah menganggapku. Atau hanya aku yang
merasakan segalanya.
Hampir sebulan kami terus
seperti itu . terus bertemu namun dia tetap menganggap ku biasa saja, bahkan
untuk memalingkan wajahnya kepada ku saja serasa ada yang menahannya. Sesulit
itu kah senyum untuk ku. Aku mulai berpikir apa aku memang hanyalah mainan
untuknya atau apalah yang disebut orang .
Dia menjadi sesosok yang
berbeda saat bertemu dengan ku dan pada saat mengirimkan message kepada ku.
Hingga malam itu tiba, malam
dimana semuanya serasa berbeda, hawa serasa membuat semua bulu kuduk ku
merinding bukan karena sesuatu yang tak nampak namun karena dirinya, yang mulai
berani mengungkapkan segalanya .
Meskipun senang saat dia
mulai bertanya tentang diriku dan perasaan ku tentangnya. Namun aku tak
mengerti mengapa tangan dan kakiku sangat dingin. Saat membaca satu kalimat
dilayar hadapan ku .
“ MAU KAH KAU BERSAMA KU ?”
Satu kalimat yang mulai
kucerna namun belum berani ku pastikan. Yang ku inginkan saat itu segala hal
yang berada dibenak ku adalah yang terbaik saat itu. Tapii...!!
“aku tak mengerti “
Ku keluarkan kata-kata untuk
mengecohnya kalimat yang sulit itu dan membuatnya pasti saat itu juga. Agar
tiada lagi panggilan kakak adik yang dapat membohongi perasaan ku hingga detik
ini .
“jujur aku sayang kamu, kamu
?”
Kubuka lebar-lebar mataku,
kuusap mata ku dengan jelas agar aku tak salah saat membaca kalimat itu. Yang
kulihat telah tersampaikan diotak ku dicerna dengan batin ku dan kurasakan
dengan perasaan ku saat ini. Ku harap semunya akan berjalan dengan bahagia,
pikir ku saat itu.
“aku juga seperti itu J”
Akhirnya segalanya menyatu.
Dan segala hubungan ini telah memiliki status namun kalimat selanjutnya pun
berjalan .
“tapi yang kuharapkan hanya
kita berdua yang tau. Tak lebih dari itu”
Kenapa?, kenapa hanya kita
berdua ?, apa alasan kamu ? namun bodohnya tangan ini menerima segalanya. Meski
pertanyaan masih bergulir dikepala ku namun tetap kulalui, meski menyayat namun
tetap ku terima .
Kami pacaran namun tak
seperti pasangan lain. Dia hanya bisa berbicara dengan ku melalui perantara.
Dia tak pernah menginginkan untuk berbicara langsung bahkan untuk senyum dengan
ku tak pernah. Hubungan backstreet ?,
bukan ini yang ku mau.
Seminggu dia menghidariku,
namun aku tetap mengangapnyaa. Tetap mengangap dirinya yang kusayang. Meski
sangat pedih namun aku tetap bertahan. Bertahan untuknya dan perasaan ini .
Dia terus menjauh,
sangat jauh. Hingga diri ini terus
berusaha mendekat dengannya namun ia terus saja menjauh, menjauh dari ku yang
masih terus saja mengejarnya, menganggapnya dan merindukannya yang telah
berubah menjadi orang lain yang tak pernah ku kenali lagi.
Meski telah jauh namun aku
tetap disini, menunggunya kembali melihatku, menunggunya menganggapku kembali
meski yang kuharapkan tak ubahnya serpihan harapan yang tak berujung .
Dia datang kembali untuk
mengatakan sesuatu, namun yang dia katakan sangat berbanding terbalik dengan
yang kuharapkan .
Dia menginginkan untuk
mengakhiri segala hal ini, mengakhiri segala hal yang tak seorang pun ketahui.
Dapatkah dia ketahui aku sakit, sangat sakit jika ingin memastikan hal yang
telah ku lepaskan menjadi tak berarti untuk yang lalu bahkan untuk yang
sekarang .
Orang yang sering
kuperhatikan sembunyi-sembunyi sekarang menjadi orang lain. Meski dulu tetap
menjadi orang lain dan menjadi pacar ku secara sembunyi-sembunyi namun aku
yakin ini lah yang terbaik. Ditinggalkan olehnya tanpa kata dari pada
bersamanya tanpa senyuman sedikit pun. Dulu aku tak ubahnya sebuah udara yang
berharap digenggam namun tak akan pernah bisa. Sesuatu yang sangat mustahil
selalu ku inginkan namun sekarang aku mulai berpikir ulang jika dia bukanlah
orang yang pantas untuk ku dan mengambil perasaan sayang yang tulus dari diri
ini .
Lama kami tak bersama lagi,
lama kami tak berbincang lagi baik itu secara langsung secara langsung maupun
melalui pesan singkat sekali pun. Aku mulai terbiasa dengan semua itu walau
hampir setiap hari aku melihatnya namun aku mulai berusaha untuk membuat itu
biasa saja. Meski sulit namun aku terus berusaha . berusaha membuatnya menjadi
hal yang biasa saja untuk diri yang juga biasa-biasa saja yang terus mencintai
hal-hal yang biasa saja seperti dirinya yang tlah menjadi orang biasa untuk
hidupku saat ini .
Disaat aku berusaha
menjadikannya biasa saja, dia datang kembali. Kembali datang mengungkit hal-hal
yang tlah lalu. Dan tak tau mengapa aku tak pernah tahan mendengar setiap
kata-katanya, aku selalu termakan semua kata-kata yang dia keluarkan, aku
dengan mudahnya terpedaya olehnya, terpedaya oleh setiap kata-kata nya. Apa aku
bodoh atau mungkin aku terlalu menyayanginya. Aku sendiri tak mengerti diriku.
Tak mengerti mana sayang itu mana benci itu.
Semakin dia bicara semakin
aku tak berhenti mendengarnya, mendengar segala kat-kata yang tak ku tau apakah
itulah hal yang paling jujur atau kah hanya kebohongan untuk mempermainkan
diriku untuk kedua kalinya .
Hingga diri ini menyetujui
segalanya, menyetujui untuk kembali bersamanya. Walaupun kembali tanpa
diketahui orang lain lagi, namun aku tetap menginginkannya. Meski kembali
menjadi orang bodoh namun aku terus merasa inilah aku. Diriku yang tak akan
pernah lepas dengannya meski sudah berusaha untuk membuatnya biasa saja .
“ terima kasih kau bisa
bersama ku lagi “
Terima kasih untuk kata-kata
itu lagi, meski bodoh namun aku akan terus bersama mu .
Perkataan
seseorang mungkin akan lebih berharga jika itu kau ucapkan dengan cara yang
tulus dan tanpa kebohongan sedikit pun .
Kebersamaan kami bersama
untuk kedua kalinya mungkin lebih lama dari kebersamaan kami yang pertama
kalinya, kebersamaan kedua yang kuharapakan tanpa kebohongan sedikitpun
ternyata membuatnya kembali menjadi dirinya yang kubenci .
Sudah cukup untuk segala
penghinaan yang dia berikan, menjadi dirinya mungkin sangat lah menyenangkan,
menyenangkan mempermainkan perasaan tulus ini . hingga segala hal terbuka.
Bagaimana tidak aku baru sadar dia seperti ini semua karna aku, karena sesuatu
yang dulu ku anggap biasa ternyata sangat melukainya .
“ itu semua hanyalah lelucon
namun bisakah kamu mengerti perasaan ku “
Ucapku saat pertengkaran itu
dimulai
“ kamu katakan itu lelucon,
sejak awal aku sangat menyayangi mu namun kamu menganggap semuanya lelucon apa
itu lucu untuk dirimu. Dan hanya ini yang membuat mu mengerti bahwa aku bukan
orang yang kamu kenal dari awal “
Seperti hujaman tajam
menghatamku. Sangat sakit, maafkan aku .maaf untuk segalanya .
“maafkan aku “
Hanya itu yang dapat aku
katakan . baru bisa menyadari semuanya . maafkan aku. Maafkan aku. Maaf dalam
tetesan air mata yang tak berarti. Tak berarti dia mengetahuinya karna akan
lebih menyakitkan jika dia tahu namun tak menganggapinya sedikitpun. Tak akan
pernah berarti dan akan menjadi sia-sia. Setidaknya air mata itu dpat menghapus
kebodohan dan kesalahan ku untuk kisahku dengannya .
Meski kata maaf tak berarti,
meski beribu tetesan air mata tak akan berhenti. Aku akan terus mengingatmu,
meski sakit namun seribu untaian kata akan selalu mengambarkan dirimu yang tlah
menjadi pelajaran berharga untuk ku .
No comments:
Post a Comment