Sederhana yang menyakitkan,
sangat indah menggambarkan wajah dengan ekspresi manis walaupun dengan hati
yang teriris.
Sederhana yang melukai, sangat
indah melihat waktu yang terus menghapus memori sedikit demi sedikit.
Seharusnya bukan
hari ini aku merelakan semuanya, seharusnya bukan hari ini aku berkata bodoh
lagi. Menerima dan melepaskan dalam hitungan jari yang melelahkan. Aku harusnya
tetap menunggu orang lain bukan malah berhenti untuk sekedar mengecap manis
perkataan orang seperti dirinya. Lelaki dengan ribuan rayu gombal telah merusak
semuanya.
Awal yang indah
mungkin tak diduakan lagi, percakapan hangat meluluhkan perasaan yang beku. Hingga,
perjalanan bersama mulai aku jalani bersama.
Perlahan aku
sadar, dia hanya memberi harapan untuk bersama. Dia hanya ingin berjalan lalu
melirik kearah ku bukan untuk menarik tanganku. Aku salah telah berhenti untuk
meliriknya juga, aku salah telah melupakan tujuan awal aku berjalan ke jalan
itu. sekarang, semua tercatat lagi begitupun dia mulai tercatat lagi dibuku
ini.
Sudahlah, dia
hanya menjadi perjalananku. Merasa itu yang terakhir kalinya aku berhenti untuk
menjadi wanita bodoh. Aku akan berjalan menuju ke orang itu. seseorang yang
menjadi tujuan segalanya. Biarlah kamu yang melirik ku hidup diduniamu. Lupakan perkataanku
jika aku menerima mu dengan segala kekuranganmu. Karena, terlalu sakit jika hanya
aku yang menerima namun kamu tak bisa menerima ku.
No comments:
Post a Comment