Monday, 3 March 2014

Lelaki dengan topi kebesaran

Salam kenal untukmu, meski aku terus berjalan namun teligaku tetap saja ingin mendengarkan suaramu. mendengarkan kau mengeja namamu didepanku dan menceritakan semua tentang dirimu. kau adalah lelaki dengan topi kebesaranmu, tersenyum dengan wajah yang dingin memperlihatkan dirimu yang lebih menyukai kesendirian dari pada keramaian yang aku buat dengan lainnya.
       Kau bisa bicara kan ?, kau bisa menyebut nama ku kan ?. tapi mengapa sangat sulit untuk sekedar bercengkrama dengan diriku. Bahkan salat yang kita lakukan berjamaah tak ada gunanya untuk mendekatkan diriku dengan orang sepertimu. aku sadar bahwa aku bukanlah wanita yang idamkan namun aku selalu berusaha untuk berubah menjadi wanita yang bisa kau bawa didepan orang tuamu nantinya.
"Aku tak ingin bersama siapapun"
     Ku garis bawahi perkataanmu itu, bahwa kau hanya mencari wanita untuk akhirat bukan untuk kesenangan. ku kagumi dirimu yang lebih dewasa dalam memilih hidup yang tak tentu jalannya ini. saat kau berkata bahwa semuanya sudah diatur oleh-Nya serasa ada yang mengetuk dinding perasaan tentang arti seorang lelaki adalah imam untuk hidupku.
           Saat keadaan lebih senang untuk memerhatikanmu, kau mengucapkan sebuah kata untuk menyuruhku pergi dari kehidupan sucimu. kau mengatakan tak peduli sama sekali terhadapku bahkan tak ada waktu sedikitpun untukku. aku mengerti bahwa aku tak berharga namun aku selalu berusaha berubah untuk menjadi wanita untuk lelaki seperti dirimu.
           Lelaki dengan topi kebesaran seperti dirimu membuatku tak bisa seperti dulu lagi, lelaki dengan topi kebesaran seperti dirimu membuat aku yang tak berarti bisa merasakan indahnya sujud di atas  sajadah itu. meski kau tetap teguh dengan prinsip, ku biarkan kau hidup dengan semua harapanmu dan terus berdoa agar kau mengerti bahwa aku berusaha berubah untukmu seorang imam yang ku impikan .

untuk calon imam yang ku impikan

No comments:

Post a Comment